Makin banyak bakteri yang menjadi kebal (resisten) karena penggunaan
antibiotik yang berlebihan. Ilmuwan pun kini berpaling ke pengobatan
tradisional seperti teh dan madu. Akankah kombinasi teh dan madu ini
akan menggantikan antibiotik di masa depan? Semakin banyak obat yang
digunakan, semakin besar kemungkinan setiap bakteri membangun resistensi
dan menjadi kuman super, menyebabkan kondisi yang disebut para pakar
'perlombaan senjata'.
Ini menimbulkan kekhawatiran dan momok bagi dunia kedokteran yang takut kembalinya revolusi obat antibiotik pada tahun 1940-an.
"Saya benci mengatakan kita kembali ke masa pra-antibiotik, ketika
mengobati penyakit serius itu sangat masalah," jelas Professor Les
Baillie dari Cardiff University, kepada BBC, seperti dilansir Telegraph,
Kamis (13/12/2012).
Dia
mengatakan dalam strategi Inggris sedang dilakukan cara untuk
memperlambat masalah dengan mengendalikan penggunaan antibiotik,
sehingga selalu ada 'suatu cadangan'.
Prof Baillie kini tengah
memimpin sebuah tim untuk mencari apakah pengobatan kuno, seperti teh
dan madu, bisa menjadi cara berikutnya untuk mengatasi kuman-kuman
super.
Teh mengandung senyawa polifenol yang memiliki manfaat kesehatan, termasuk kemampuannya untuk membunuh mikro-organisme.
Para ilmuwan dari tim Prof Baillie telah melihat teh sebagai sumber
obat untuk mengobati clostridium difficile, yakni bakteri yang
bertanggung jawab setidaknya pada 2.000 kematian dan lebih dari 24.000
infeksi tahun lalu.
"Ada kekhawatiran nyata tentang masa depan
kedokteran pada masa pasca-antibiotik," papar Rhidian Morgan-Jones,
seorang ahli bedah Cardiff University.
Makin banyak bakteri yang menjadi kebal (resisten) karena penggunaan
antibiotik yang berlebihan. Ilmuwan pun kini berpaling ke pengobatan
tradisional seperti teh dan madu. Akankah kombinasi teh dan madu ini
akan menggantikan antibiotik di masa depan? Semakin banyak obat yang
digunakan, semakin besar kemungkinan setiap bakteri membangun resistensi
dan menjadi kuman super, menyebabkan kondisi yang disebut para pakar
'perlombaan senjata'.
Ini menimbulkan kekhawatiran dan momok bagi dunia kedokteran yang takut kembalinya revolusi obat antibiotik pada tahun 1940-an.
"Saya benci mengatakan kita kembali ke masa pra-antibiotik, ketika mengobati penyakit serius itu sangat masalah," jelas Professor Les Baillie dari Cardiff University, kepada BBC, seperti dilansir Telegraph, Kamis (13/12/2012).
Dia mengatakan dalam strategi Inggris sedang dilakukan cara untuk memperlambat masalah dengan mengendalikan penggunaan antibiotik, sehingga selalu ada 'suatu cadangan'.
Prof Baillie kini tengah memimpin sebuah tim untuk mencari apakah pengobatan kuno, seperti teh dan madu, bisa menjadi cara berikutnya untuk mengatasi kuman-kuman super.
Teh mengandung senyawa polifenol yang memiliki manfaat kesehatan, termasuk kemampuannya untuk membunuh mikro-organisme.
Para ilmuwan dari tim Prof Baillie telah melihat teh sebagai sumber obat untuk mengobati clostridium difficile, yakni bakteri yang bertanggung jawab setidaknya pada 2.000 kematian dan lebih dari 24.000 infeksi tahun lalu.
"Ada kekhawatiran nyata tentang masa depan kedokteran pada masa pasca-antibiotik," papar Rhidian Morgan-Jones, seorang ahli bedah Cardiff University.
Ini menimbulkan kekhawatiran dan momok bagi dunia kedokteran yang takut kembalinya revolusi obat antibiotik pada tahun 1940-an.
"Saya benci mengatakan kita kembali ke masa pra-antibiotik, ketika mengobati penyakit serius itu sangat masalah," jelas Professor Les Baillie dari Cardiff University, kepada BBC, seperti dilansir Telegraph, Kamis (13/12/2012).
Dia mengatakan dalam strategi Inggris sedang dilakukan cara untuk memperlambat masalah dengan mengendalikan penggunaan antibiotik, sehingga selalu ada 'suatu cadangan'.
Prof Baillie kini tengah memimpin sebuah tim untuk mencari apakah pengobatan kuno, seperti teh dan madu, bisa menjadi cara berikutnya untuk mengatasi kuman-kuman super.
Teh mengandung senyawa polifenol yang memiliki manfaat kesehatan, termasuk kemampuannya untuk membunuh mikro-organisme.
Para ilmuwan dari tim Prof Baillie telah melihat teh sebagai sumber obat untuk mengobati clostridium difficile, yakni bakteri yang bertanggung jawab setidaknya pada 2.000 kematian dan lebih dari 24.000 infeksi tahun lalu.
"Ada kekhawatiran nyata tentang masa depan kedokteran pada masa pasca-antibiotik," papar Rhidian Morgan-Jones, seorang ahli bedah Cardiff University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar